Roro Grace


Maria Agustina Mamahit (Grace)

Staff Protokoler Pemkab. Malang, Anouncer, Presenter

Duta Wisata Sebuah Fase…..

“Duta wisata itu cantik-cantikan..”
“Duta wisata? Apa itu? Cuma eksis di panggung aja..”
“Yang bagian bawa baki? Duta Wisata expertnya..”

Beberapa tahun yang lalu, di setiap pagi saya bangun, tidak pernah saya terpikir bahwa saya akan mengalami perubahan hidup yang terjadi begitu drastis dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Berdiri di atas panggung bukan sesuatu yang asing buat saya. Saya terbiasa tampil di depan banyak orang, menyuarakan keinginan saya, membaca puisi-puisi penyair kenamaan, atau bercerita tentang dongeng anak-anak. Saya selalu senang melihat mata mereka berbinar. Itu kepuasan tersendiri bagi saya. Tapi lain ceritanya, ketika saya diharuskan untuk berlenggok, mengatur cara jalan saya, senyum saya, bahkan tatapan saya. Sesuatu yang bukan saya. Namun, di akhir acara, tongkat Roro 2008 pun diberikan kepada saya. Dari sinilah, saya mulai mendengar senandung pujian serta cibiran diluar sana terhadap brand duta wisata.
Saya tidak terima. Bukan karena jabatan yang saya terima. Saya tersinggung secara personal. Saya bukan seperti yang mereka kira. Itu saja yang terbenam di benak saya, di awal perjalanan saya memasuki dunia duta wisata ini.

Waktu bergulir seperti musim yang tidak pernah dirancang.
Saya menjadi pribadi yang berbeda. Berubah memang. Tapi saya lebih mengerti seperti apa lirihan kehidupan yang menuntut setiap manusia menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi padanya. Keputusan saya untuk tenggelam dalam dunia ke-dutawisata-an. Sehingga, alam pun mengerti kebutuhan saya. Saya berjumpa dengan begitu banyak orang, dengan strata dan latar belakang yang beragam. Saya semakin menyadari betapa Tuhan yang disembah adalah Sang Pencipta yang luar biasa. Ia menciptakan berbagai wujud dan bentuk pribadi serta sifat manusia yang begitu kaya dan tidak dapat diprediksi. Inilah yang membuat saya bertahan hidup: Bahwa saya harus menempuh jalan kegemilangan, gemerlap lampu panggung grand final yang saya rasakan mulai dari dinobatkan menjadi Raki 2009 sampai Duta Wisata Indonesia Persahabatan 2009, sampai ketika saya harus kehujanan di terminal salah satu kota di Jawa Timur, demi sebuah tugas yang hanya sejam durasinya, atau ketika saya harus terkantuk-kantuk kelelahan dalam bus pengab menuju kota saya setelah beberapa hari melihat kondisi tempat wisata di beberapa daerah lain. Apa yang harus dikeluhkan? Semuanya terbayarkan dengan perasaan betapa beruntungnya saya merasakan dunia yang memiliki dua sisi ini. Saya dibiasakan bertemu dengan pembesar-pembesar negara. Namun, tidak jarang saya bercanda bahkan berbagi tentang kehidupan dengan supir bus, kondektur, bahkan abang tukang becak. Saya menjalani semuanya. Dan itulah yang membuat saya bertumbuh.

Saya tidak pernah setuju ketika ada suara yang berkumandang bahwa dengan menjadi duta wisata anda bisa sukses, atau sebaliknya: menjadi duta wisata adalah sesuatu yang tidak berguna. Namun, menjadi seorang duta wisata adalah salah satu proses saya menuju tujuan hidup saya. Saya tidak pernah menyarankan kepada para duta wisata yang baru dinobatkan untuk kipas-kipas bangga dengan jabatan yang diraih sekarang, atau pun menyarankan mereka untuk selalu minta fasilitas nomor satu dimana pun mereka berada. Karena, bagaimana mereka bisa memecahkan problem transportasi pariwisata jika ternyata mereka tidak pernah berdesak-deskan dengan penumpang lain bercampur aroma matahari dan peluh di angkutan umum? Bagaimana mereka bisa menjelaskan pada publik bahwa kesadaran wisata itu penting dengan keramahtamahannya, jika mengucapkan terima kasih atau sekedar berjabat tangan menanyakan kabar dengan seorang tukang parkir pun tidak pernah? atau bagaimana mereka bisa memaksimalkan potensi petani di daerah agrowisata bahkan belanja di pasar tradisional pun tidak pernah?

Kesuksesan hidup seseorang tidak dinilai dari berapa banyaknya saham yang dimiliki atau jabatan serta title pendidikan, namun bagaimana sebagai manusia sadar bahwa kualitas pribadi lah yang menentukan segalanya. Menjadi duta wisata adalah bagian proses kehidupan saya menuju kualitas manusia yang lebih baik. Dan saat ini tidak ada yang mengalahkan kesadaran saya akan betapa beruntung hidup saya saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s