Cagar Budaya


 

 

 

 

Candi Singosari

Candi SinggosariDi Kabupaten Malang banyak sekali terdapat peninggalan-peninggalan masa lampau. Salah satu diantaranya adalah Candi Singosari. Candi ini terletak di Kecamatan Singosari lebih kurang 11 km sebelah utara dari pusat kota Malang. Candi Singosari/Singhasari kadang disebut pula sebagai Candi Ken Dedes terletak di kota Singosari. Candi Singosari juga merupakan makam Raja Kertanegara (1268 – 1292) sebagai Bhirawa atau dewa Syiwa dalam bentuk ganas.
Arca Dwarapala 

Di sebelah barat candi Singhasari (kurang lebih 100 Meter) terdapat dua arca besar yang mempunyai tinggi 3,7 Meter yang disebut sebagai penjaga atau lebih dikenal dengan Arca Dwarapala dari sebuah taman yang indah dan luas pada zaman kerajaan Singhasari, yang mungkin mencakup Sumberawan. Yang berada disebelah selatan pada tahun 1980 pernah dinaikkan dari benamannya yang setinggi dadanya.
Arca Dwarapala Arca Dwarapala

Candi KidalCandi Kidal
terletak sekitar 7 Km dari Kecamatan Tumpang tepatnya di Desa Kidal, adalah merupakan tempat abu jenazah raja kedua dari Kerajaan Singhasari (1227 – 1248) yaitu Anusapati yang dipuja sebagai Syiwa. Candi ini menghadap Barat mempunyai tinggi 12,5 meter diperkirakan selesai pembangunannya sekitar tahun 1260.
Terdapat pahatan dari ceritera Garuda yang mencuri Amarta, air kehidupan, untuk menebus ibunya yang diperbudak oleh saudaranya. Pahatan terindah terdapat dibelakang (sebelah timur) yaitu menggambarkan Garuda sedang membawa Amarta Pahatan Kala sudah lain dengan pahatan dari Jawa Tengah karena rahang bawahnya ditampakkan.

Stupa Sumberawan

Stupa SumberawanKarena bangunan Stupa Sumberawan ini bentuknya menyerupai genta, maka salahlah kalau disebut candi. Menurut Empu Prapanca, stupa ini pernah dikunjungi raja Hayam Wuruk pada tahun 1359, karena disekitarnya pun terdapat banyak kolam teratai dan terkenal dengan nama Kasuranggahan yang berarti Taman Bidadari. Inilah mungkin sekali Sumberawan, karena letaknya yang ditengah hutan kecil, di lereng gunung Arjuno, dikelilingi kolam dan nampak indah sekali. Stupa, yang tingginya 2,23 Meter ini terletak kira-kira 8 Km jauhnya dari Singosari atau tepatnya di Desa Toyomarto.
Stupa Sumberawan Kolam Sumberawan
Pemandian Watugede
Di Kecamatan Singosari memang banyak sekali peninggalan- peninggalan sejarah jaman kerajaan Singosari/Singhasari. Salah satu diantaranya adalah Pemandian Watu Gede. Konon kabarnya tempat ini adalah pemandian bagi raja-raja Singhasari. Yang cukup menarik dari pemandian ini yaitu sumber airnya yang tersebar disisi pemandian dengan debit air yang cukup tinggi. Letaknya lebih kurang 10 km dari pusat kota Malang (dekat dengan Stasiun Kereta Api Singosari ± 100 m)
Pemandian Watugede Pemandiaan Watugede

Pesarean Gunung Kawi

Pesarean Gunung KawiPesarean Gunung Kawi merupakan tempat Khol untuk memperingati wafatnya Mbah Soedjono yang dimakamkan di Gunung Kawi, di Kecamatan Wonosari, merupakan ziarah keluarga yang berangkat beriring dari sebuah masjid ke makam, yang kemudian diikuti oleh ribuan peziarah lain, sebagian besar datang dari luar Kabupaten Malang.
Mbah Imam Soedjono adalah salah satu dari 70 bangsawan yang ikut menentang penjajah di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro di sekitar Yogyakarta antara tahun 1825 – 1830 ; sedangkan Mbah Djoego Pintu Masuk ke Pesarean Gunung Kawidengan makam disebelahnya adalah pendamping Mbah Soedjono di pedepokan Gunung Kawi dan seorang yang berjasa pada penduduk mengatasi penyakit ternak semasa hidupnya.
Selamatan dan pertunjukan wayang kulit selalu menyertai acara ini dan upacara serupa dalam bentuk sederhana juga diadakan dengan selang 5 minggu, yaitu pada hari wafatnya Mbah Djoego, menjelang hari Senen Pahing dan juga pada hari menjelang Legi, hari yang dipandang keramat oleh masyarakat Jawa Timur.Tanggal wafatnya adalah 12 Sura dan menurut kalender Saka (Jawa/Aboge) ziarahnya dilakukan pada sore hari sebelumnya pada pukul 16.00 sedangkan selamatannya pada pukul 19.00. Tahun wafatnya adalah 1876.

Makam Karaeng Galesong

Makam Karaeng GalesongKabupaten Malang pada waktu jaman penjajahan Belanda merupakan salah satu tempat basis perlawanan melawan penjajah. Dalam melawan penjajah untuk membela nusa dan bangsa Indonesia banyak pahlawan yang gugur. Makam Karaeng GalesongSalah satu diantaranya pahlawan yang gugur dan di makamkan di Ngantang adalah KARAENG GALESONG TUMENANGA RI TAPPANA, yang berasal dari Makasar, seorang Panglima Perang Angkatan Laut Kerajaan Goa, Putra Sultan Hasannuddin, Raja Goa ke XVI, menantu Raden Trunojoyo, murid Penambahan Giri.
Karaeng Galesong adalah tokoh pahlawan yang menentang VOC pada waktu penjajahan Belanda ± abad 17. Makam ini terletak di Desa Sumber Agung, kec. Ngantang ± 5 Km dari obyek Wisata Bendungan Selorejo

Candi Jajaghu / Jago

Candi Jajaghu / JagoCandi Jago atau Jajaghu yang terdapat di Desa Tumpang Kec. Tumpang ini merupakan pusara Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singhasari sebagai Budha Amogapasya yang mangkat pada tahun 1268.Yang khas dari candi ini adalah adanyarelief keliling dengan 5 buah ceritanya, yaitu Tantri Kamandeka, Kuntjarakarna, Parthayajna, Arjunawiwaha dan Krisnayana dengan bentuk-bentuk pelakunya yangmirip wayang kulit, seperti halnya pula yang terdapat di Candi Penataran, Blitar. Gubernur Raffles pada tahun 1815 pernah mengunjunginya dan menuliskannya dalam buku “History of Java”. Bentuknya yang tersusun 3 teras dengan badan candi agak kebelakang merupakan bentuk yang khas pula dari candi ini.
Canbdi Jajaghu / Jago

sumber : http://www.malangkab.go.id/?kode=44&ktg=01&page=98

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s