Observasi Wisata ke Paguyuban Dimas Diajeng Provinsi D.I.Y


TUGU JOGJADaerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang berada di Jawa Tengah. Daerah ini sangat terkenal di kalangan Turis Lokal maupun Mancanegara. Tak heran jika setiap Tahunnya turis-turis yang datang kesini semankin meningkat. Tempat Wisata yang menjadi tujuan utama para wiatawan diantaranya adalah Malioboro, Keraton, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dll.  Tempat-tempat  Wisata tersebut merupakan tempat yang menjadi asset perekonomian bagi Pemerintah D.I.Y. Tidak heran jika Pemerintah D.I.Y sangat memperhatikan tempat tersebut. Karena selain sebagai asset perekonomian Pemerintah, juga sebagai tempat perputaran roda kehidupan masyarakat sekitar.

Kali ini PAKAR melakukan kunjungan ke Paguyuban Dimas Diajeng D.I.Y. Yang dimana kunjungan ini adalah untuk melakukan Observasi Wisata Budaya yang terdapat di daerah D.I.Y. Joko Fajar sebagai perwakilan dari PAKAR yang ditugaskan untuk berangkat ke D.I.Y. Perjalanan dilakukan selama 3 hari 2 malam yaitu, pada tanggal 22 Desember 2012, yang kemudian kegiatan Observasi dilaksanakn pada tanggal 23 Desember 2012. Yang dimana kedatangan PAKAR ini  disambut hangat oleh Paguyuban Dimas Diajeng D.I.Y. Dengan menugaskan salah satu Dimasnya yang bernama Dimas Christandi. Dimas Christandi adalah Dimas Favorit D.I.Y tahun 2012.

Minggu, 23 Desember 2012, Joko Fajar dan Dimas Chris melakukan perjalanan Observasi Wisata yang ada di D.I.Y. Obyek Wisata yang akan kami kunjungi pun sangat menarik yang diantaranya adalah Panggung Krapyak, Taman Sari, Museum Vredebrug, Kraton, Museum Kereta Keraton, Kantor Gubernur, dll.  Perjalanan kami dimulai dari Stasiun Tugu, yang kemudian menyusuri Garis Imajiner Yogyakarta sampai ke Panggung Krapyak. Garis Imajiner Yogyakarta merupakan garis lurus yang ditarik dari Selatan Yogyakarta lebih tepatnya dari Pantai Parangtritis sampai ke Gunung Merapi yang dimana  memiliki banyak filosofi tentang Yogyakarta sepanjang garis tersebut . Garis Imajiner ini merupakan lambang alur perjalanan hidup manusia.

Garins Imajiner ini dimulai dari Pantai Selatan Yogyakarta, makna Pantai Selatan Yogyakarta atau lebih dikenal dengan sebutan Parangtritis adalah sebagai simbol dari alam bawah sadar kita, yaitu dimana kita belum dilahirkan yang dimana kita masih berwujud Roh. Yang selanjutnya dari Pantai Parangtritis menuju ke atas Pantai terdapat Panggung Krapyak. Panggung Krapyak dibangun sekitar tahun 1760 oleh Sri Sultan HB I yang memiliki kegemaran yang sama dengan Prabu Hanyokrowati yaitu berburu. Panggung ini digunakan sebagai pos berburu sekaligus sebagai daerah pertahanan dari binatang buas. Panggung Krapyak dulunya juga merupakan tempat istirahat bagi Raja berserta pengawalnya seusai perburuannya.

Sekilas, bangunan ini menggambarkan kenyamanan yang diperoleh raja, bahkan saat berburu. Ketinggian bangunan membuat raja berburu dengan rasa nyaman dan aman, leluasa mengintai tanpa perlu khawatir diserang oleh hewan buas ketika berburu. Lantai dua tempat ini pun cukup nyaman, berupa ruangan terbuka yang cukup luas dan dibatasi oleh pagar berlubang dengan ketinggian sedang.

Yang cukup menarik dari berdirinya bangunan ini merupakan salah satu sumber garis imajiner antara Gunung Merapi-Tugu Jogja-Keraton Yogyakarta-Panggung Krapyak-Laut Selatan. Poros Panggung Krapyak hingga Kraton menggambarkan perjalanan manusia dari lahir hingga dewasa. Panggung Krapyak dilambangkan sebagai Rahim seorang ibu, karena dari Rahim seorang Ibulah manusia dilahirkan. Dengan ditunjang oleh wilayah sekitar panggung melambangkan kehidupan manusia saat masih dalam kandungan, ditandai dengan adanya kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak sebagai lambang benih manusia.

KERATON JOGJASelanjutnya dari Panggung Krapyak menuju ke atas terdapat Kraton. Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati).

Garis besarnya, wilayah Kraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme terbalik, sehingga bisa dibaca secara simbolik filosofis. Dari arah selatan ke utara, sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam fana, dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusia ke sisi Dumadi (Tuhan dalam pandangan Jawa). Sedangkan Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani.

Kraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita. Sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambang manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan Paraning Dumadi).

Secara sederhana, Tugu perlambangan Lingga (laki-laki) dan Krapyak sebagai Yoni (perempuan). Dan Kraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya. Keraton jika dikaitkan dengan garis imajiner, memiliki arti yaitu Kehidupan Baru atau yang lebih dikenal dengan pertumuan dua insan manusia yang diikat dengan tali Pernikahan. Yang dimana kita mulai menginjak dewasa dan siap untuk memulai hidup baru bersama pasangan kita.  Dari Panggung Krapyak menuju Keraton terdapat banyak Pohon Asem dan Pohon Tanjung yang memiliki arti ” KESENGSEM AMARGA DISANJUNG ” yang melambang kehidupan kita dari mulai lahir sampai menjelang Pernikahan, yang dimana kita sudah mulai saling melirik lawan jenis kita yang kemudian saling suka dan ingin menempuh hidup bersama dalam tali Pernikahan.

Selanjutnya dari Keraton menuju ke atas terdapat Tugu Yogyakarta, yang dimana mempunyai arti perjalanan kita menuju sang Khalik. Setelah kita menjalin pernikahan, kita mulai memupuk kehidupan yang damai dan tentram dalam berkeluarga serta membina dalam bekal menuju kehidupan yang akan datang di Alam sana. Selanjutnya menuju ka atas lagi adalah ujung Garis Imajiner dibagian Utara Yogyakarta yaitu terdapat Gunung Merapi. Gunung Merapi melambangkan Dunia Parahyangan yang artinya kehidupan kita setelah di Dunia, kehidupan menghadap Sang Maha Kuasa.

PECEL TURISetelah mempelajari tentang Garis Imajiner Yogyakarta, kami beristirahat sejenak di Malioboro untuk mencicipi kuliner Khas Yogyakarta yaitu, Pecel Turi. Tidak beda jauh dengan pecel-pecel yang sudah terkenal seperti Pecel Madiun, dan Blitar. Tapi yang membuat Khas disini adalah sayur Turinya yang berasal dari Bunga Pepaya.

BENTENGSeusai mencicipi Kuliner Khas Yogyakarta kami melanjutkan Obesevasi ke Museum  Benteng Vredeburg yang terdapat di Selatan Maliboro, lebih tepatnya didekat  0 KM Kota Yogyakarta. Selama berkunjung di Museum Ini kami dipandu oleh Pak Seno selaku pengelola Museum Benteng Vredeburg.  Pihak Pengelola Museum sangat senang sekali kedatangan Tamu Duta Wisata dari Luar Kota, dan mengapresiasikan kegiatan ini, karena masih ada yang mau menggali tentang Sejarah dan Buadaya Indonesia, khususnya di Yogyakarta ini.

Kami bersama Pak Seno mengelilingi  Museum ini, sambil di Pandu dan dijelaskan tentang Sejarah Museum ini dan Yogyakarta. Selama mengelilingi dan mendengarkan cerita dari Pak Seno banyak hal yang saya dapat dari tempat ini yang sangat berharga dan ilmu yang bermanfaat, dari belum saya ketahui, dan kini saya menjadi tahu seperti apa itu perkembangan Yogyakarta pada waktu dahulu sampai sekarang, apalagi dengan penjelasan Pak Seno yang sangat detail dan terperinci. Dan ada beberapa kata motivasi yang dijabarkan oleh Pak Seno kepada saya yang berasal dari makna ” JONG-JAVA (SAKTI, BOEDI, BAKTI ) “  yang sampai sekarang masih teringat dibenak saya dan menjadi motivasi saya. “ Jadilah Pemuda yang Sakti dalam pemikiran yang jauh kedepan, dengan memiliki Budi perkerti yang kuat dan jangan lupa berBaktilah kepada Orang Tua, pekerjaan, agama, kelak hidup nanti akan tentram Dunia-Akhirat “.

Setelah berkunjung ke Museum Benteng Vredebrug dan penyerahan kenang-kenangan yang diberikan Pihak Museum yang di wakilkan oleh Pak Seno kepada saya, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung, untuk melakukan Shalat Zuhur. Masjid Agung ini juga mempunyai filosofi, dan mengapa berada disebelah Kanan Keraton. Menurut filosofinya penempatan posisi Masjid ini berdasarkan perhitungan Jawa, yang dimana sebagai penyeimbang Kehidupan. Manusia mempunyai dua sisi yaitu, sisi Positif dan Negatif. Sebagai sumbu dari kedua sisi ini maka Keratonlah yang berada di tengah-tengah, yang kemudian sisi kanan adalah Masjid sebagai symbol kebajikan dan sebelah kiri adalah Penjara sebagai symbol kejahatan.  Sedangkan sisi Utara dan Selatan dikaitan dengan perjalan hidup manusia, yang dimana sebelah Selatan adalah awal kehidupan dan di Utara adalah akhir kehidupan.

Setelah shalat selesai perjalanan kami pun masih berlanjut, dengan tujuan berikutnya adalah Keraton, tapi sangat disayangkan kami tidak bisa masuk sampai ke dalam Keraton karena jam berkunjung ke dalam sudah ditutup, jadi hanya dibagian lingkar luar Keraton. Setelah melihat seperti apa itu lingkar luar Keraton, kami melanjutkan berkunjung ke Museum Kereta Keraton. Di Museum Kereta terdapat Kereta Kuda yang pernah menjadi tunggangan Sultan dan petinggi Keraton lainnya. Konon katanya, di setiap Kereta terdapat penunggu yang mendiami Kereta, alhasil seperti yang saya lihat, ada beberapa Kereta yang diberi Sesajen untuk menghormati Empunya Kereta tersebut.

Perjalanan kami berlanjut ke Taman Sari sebagai tujuan akhir obyek Observasi Wisata yang saya lakukan. Taman Sari dulunya adalah tempat mandinya para Selir Sultan, yang dimana setiap mereka mandi, Sultan melihatnya dari menara yang terdapat di selatan kolam pemandian, untuk melihat dan memilih siapa yang akan dipilih Sultan untuk menghiburnya.

CINDERAMATA1CINDERAMATA2

Dan akhirnya setelah berbagai tempat yang saya kunjungi bersama Dimas Christandi, akhirnya kami pergi ke Kantor Gubernur D.I.Y untuk melakukan pertukaran Cindera Mata Khas dari Wilayah masing-masing, sebagai simbol telah suksesnya kegiatan Observasi Wisata dan melambangkan semakin eratnya tali Silahturahmi dan Kerja Sama antara PAKAR dengan Paguyuban Dimas Diajeng D.I.Y. Topeng Panji Asmoro Bangun yang mewakili Cindera Mata Khas Kabupaten Malang yang diberikan oleh PAKAR  kepada Dimas Christandi sebagai perwakilan dari Paguyuban Dimas Diajeng D.I.Y . Dan Miniatur Becak yang mewakili Cindera Mata Khas D.I.Y yang diberikan oleh Dimas Christandi kepada saya Joko Fajar sebagai perwakilan dari PAKAR.

Setelah perjalanan panjang yang saya lewati selama di Yogyakarta, banyak hal baru yang saya dapatkan disini dan Ilmu yang sangat luar biasa hebatnya yang saya camkan dalam benak dan pikiran saya, yang tidak dapat diungkapan oleh kata-kata, hanya ucap Syukur Alhamdulilah kepada Allah SWT yang selalu saya ucapakan dalam hati. Dan kini saya mengerti apa itu Yogyakarta yang sebenarnya.

Ya, memang benar apa yang di goreskan sebuah tinta dalam sebuah lirik lagu Tanah Airku “ YANG MANSYUR PERMAI DIKATA ORANG ”, ya itulah Tanah Air kita Indonesia, yang memiliki banyak ragam Budaya, Ras, Bahasa, Sejarah, Alam yang kaya, dll. Sudah sepatutnya kita sebagai salah satu Duta Wisata Indonesia, menjaga dan melestarikan Asset Budaya yang kita miliki, serta mengajak masyarakat untuk lebih Cinta akan Budaya INDONESIA, mengingat semakin minimnya Kesadaran dan Rasa Cinta masyarakat akan Budaya yang dimiliki oleh Bangsa Kita Sendiri, Bangsa Indonesia.

                                               

One response to “Observasi Wisata ke Paguyuban Dimas Diajeng Provinsi D.I.Y

  1. Ini budaya yang jangan sampai dilupakan… informasi yang bermanfaat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s