PENYEKARAN DAN KIRAB AGUNG 1432 H DI GUNUNG KAWI MALANG


Kira – kira empat puluh kilometer disebelah barat kota Malang ( Jawa Timur ) yang sejuk, di lereng sebelah selatan Gunung Kawi, terdapatlah sebuah makam yang dikenal dengan sebutan “ PESAREAN GUNUNG KAWI “.

Di Pesarean tersebut dimakamkan dalam satu liang lahat dua tokoh kharismatik yang berasal dari Keraton Mataram abad ke-19, yakni Kanjeng Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono. Yang pertama disebut adalah keturunan penguasa Mataram Kartasura yang memerintah pada abad ke-18, sedangkan yang kedua adalah keturunan penguasa Mataram Yogyakarta yang memerintah pada abad yang sama. Popularitas Kyai Zakaria II yang lebih dikenal dengan nama Mbah Djoego menyebabkan pesarean tersebut juga terkenal dengan nama “ Makam Mbah Djoego / Kyiai Jugo “.


Semasa hidupnya kedua orang tersebut dikenal dengan kharisma dan sifat – sifatnya yang baik. Meskipun sebagai manusia biasa bukan berarti luput begitu saja dari kesalahan – kesalahan. Keduanya dikenal sebagai tokoh keagamaan dan pendakwah Agama Islam ( Da’i ). Mereka juga dikenal pemimpin dan panutan masyarakat yang dekat dengan rakyat kecil, khususnya di jawa Timur. Mereka juga, dihormati karena sifat – sifat patriotiknya, yakni sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro ketika berperang melawan penjajah belanda pada tahun 1825 – 1830.

Karena kharisma dan sifat – sifat luhur itu mereka tetap dikenang dan dihormati, bahkan sampai mereka wafat sekalipun. Hal ini terbukti dengan tetap terpeliharanya makam mereka dengan baik dan banyaknya kunjungan – kunjungan perziarahan ke makam mereka di Gunung Kawi. Bahkan bagi beberapa orang yang percaya, makam itu dianggap sebagai makam keramat. Bagi mereka yang percaya, kunjungan ziarah ke makam tersebut bukan hanya untuk menunjukkan rasa hormat kepada leluhur, tetapi juga dipercaya dapat melapangkan berkah Tuhan.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat : tua – muda ; pria – wanita; pengusaha – pegawai; tokoh atau pemimpin masyarakat dan rakyat kecil; dan sebagainya. Mereka bukan hanya berasal dari daerah Malang atau Surabaya atau daerah – daerah yang berdekatan dengan lokasi pesarean tersebut, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air.Pesarean tersebut bahkan juga telah menarik perhatian orang – orang asing. Dalam buku tamu / peziarah dapat dilihat bahwa makam tersebut telah dikunjungi oleh orang – orang dari : Singapura, Malaysia, RRC, Taiwan, India, Amreika Serikat, Inggris, Hongkong, Jepang, Australia, Canada, Suriname, Belanda, Jerman Barat, Zanzibar, berbagai daerah di timur tengah dan sebagainya.

Heterogenitas pengunjung sepeti itu kiranya dapat dijadikan indikasi popularitas pesarean tersebut. Heterogenitas pengunjung seperti itu juga menunjukkan bahwa walaupun kedua tokoh tersebut berasal dari kalangan keraton ( Elite” dalam pandangan tradisi Jawa ), mereka adalah tokoh – tokoh yang populis. Pada hari – hari biasa jumlah pengunjung Pesarean Gunung Kawi berkisar puluhan hingga ratusan orang. Tetapi pada hari Jum’at Legi, hari dimakamkannya Mbah Djoego, jumlah pengunjung melonjak hingga ribuan orang. Jumlah ini mencapai puncaknya pada tanggal 12 tiap – tiap tahun bulan Suro ( Muharam ), yaitu pada saat diadakannya “ TAHLIL AKBAR “ upacara khusus untuk memperingati wafatnya almarhum Raden Mas Iman Soedjono. Jumlah pengunjung melonjak hingga puluhan ribu orang. Kompleks makam tersebut sempit pada saat upacara tersebut diadakan oleh karena banyaknya pengunjung.

Mudah diduga terdapat beraneka ragam motivasi pengunjung datang ke Pesarean Gunung Kawi tersebut. Entah untuk menghormati leluhur, entah untuk berwisata, entah untuk melakukan penelitian ilmiah. Tetapi motivasi yang paling umum ialah kunjungan perziarahan dan untuk memanjatkan do’a – do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar keinginan – keinginan dapat segera terkabul. Dengan perkataan lain, motivasi para pengunjung Pesarean tersebut pada umumnya bersifat religius atau peribadatan.

Suasana Pesarean itu sendiri sangat mendukung tujuan – tujuan religius tersebut. Pesarean tersebut terletak di lereng sebelah selatan Gunung Kawi, dengan ketinggian 800 Meter diatas permukaan laut. Hawanya bersih. Udaranya sejuk. Terkadang berkabut dan agak dingin. Alam sekitarnya penuh ditumbuhi pepohonan besar yang rindang dan subur. Asri. Keheningan adalah bagian totalitas ketenangan pesarean. Suasana semacam ini sangat mendukung kekhususkan upaya – upaya kontemplasi, intropeksi, puja – puji kepada Yang Maha Adhi, dan doa – doa kepada YangMaha Kuasa, Tuhan.

Jika senja tiba, siratan cahaya mentari yang berangkat keperaduannya membayang elok di ufuk barat. Kicau burung – burung tersebut tempat bertengger berpadu dengan eretan suara belalang, menggores kalbu. dari sebelah barat kompleks makam terdengar alunan merdu azan Maghrib dari Masjid Agung IMAN SOEDJONO yang dilatarbelakangi oleh irama karawitan sayup – sayup lembut, mengakhiri latihan – latihan rutin Group dedaunan yang diterpa angin seakan – akan berucap selamat tinggal senja dan selamat datang rembulan dan bintang yang diiringi malam. Sungguh, harmoni kehidupan alam ini sulit diukur dengan kata – kata. Yang tinggal adalah kesan : keindahan adalah milik alam dan keAgungan adalah hak Tuhan.

Berbagai upaya telah dilakukan pihak Pengelola Pesarean untuk menunjang peribadatan – peribadatan di Pesarean tersebut. Kebersihan kompleks makam menjadi ikhtiar yang selalu dikerjakan setiap hari. Dikerahkannya bantuan pihak keamanan ( SATPAM, HANSIP, dll ) diupayakan agar menjadi jaminan ketenangan peribadatan. Tata cara peribadatan diumumkan kepada para pengunjung, agar peribadatan berjalan lancar. Sarana – sarana peribadatan dipersiapkan dan disempurnakan terus menerus. Pendopo pesarean diperluas dan dipernyaman sehingga mampu menampung sekitar 1000 ( seribu ) orang yang duduk “sila”, duduk silang kaki. Pusat informasi dibuka untuk membantu para pengunjung memperoleh penjelasan – penjelasan tata cara perziarahan. Bunga, dupa, lilin, tikar dan lain – lain prasarana yang dibutuhkan dalam peribadatan dipersiapkan agar tetap tersedia setiap kali dibutuhkan. Dan banyak lagi upaya – upaya yang dilakukan oleh Pengelola Pesarean untuk mendukung tujuan peribadatan dari para pengunjung.

Berbeda dengan suasana tenang, hening dan khusuk di bagian makam, di daerah sekitar dan pelataran Pesarean dapat ditemukan aktivita yang lebih dinamis dari masyarakat sekitar, tetapi tidak bertentangan dengan suasana peribadatan di Pesarean tersebut.

Secara tidak lagsung, popularitas Pesarean Gunung Kawi dan frekuensi kunjungan yang tinggi dari para pengunjung Pesarean yang berjumlah besar telah memacu aktivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar Pesaean tersebut.

Pasar yang ada disebelah selatan pesarean menjadi semarak. Disisi – sisi jalan masuk ke Pesarean masyarakat membuka kios menjual barang – barang hasta karya lokal, seperti : anyam – anyaman, ukir – ukiran, batu permata, keramik, tanaman hias dan lain – lain.para remaja dan kaum wanita, dibalik kios – kios yang mungil menawarkan bunga – bunga untuk ditaburkan di makam atau untuk upacra peribadatan. Senyum mereka yang ramah dan laku yang sopan agaknya akan mampu menghapus perasaan was – was yang mungkin timbul dari perasaan “angker” akan istilah “makam” atau “pesarean”.

Menarik pula untuk dinikmati dipelataran Pesarean, hasil bumi yang spesifik dari daerah tersebut, misalnya : ketela rambat, jagung reus dan bakr, pisang, apel malang, dan sebagainya. Di tempat yang sama dapat pula dinikmati makanan khas daerah tersebut, seperti : nasi pecel, gudeg atau blendrang, urap – urap, nasi jagung dengan sayur lodheh, ketan lopis dan lain – lain, yang dapat diperoleh dengan harga relative murah. Di samping itu tentu saja tersedia restoran – restoran yang menyediakan makanan – makanan Indonesia dan Tiong Hoa. Tersedia pula toko – toko kelontong di pelataran kompleks pesarean. Fasilitas ini masih dilengkapi dengan hotel – hotel mulai dari yang sederhana sampai dengan yang lebih reprensentatif. Ringkas kata, kawasan sekitar kompleks Pesarean tersebut sudah mulai tumbuh seperti “kota mini “ yang lengkap dengan berbagai fasilitas.

Satu lagi aspek sosial yang menarik dari kawasan ini adalah masalah pembauran. Heterogenitas pengunjung Pesarean ternyata turut serta mempererat jalinan interaksi antar etnis, sehingga masalah pembauran seolah – olah mudah menjadi satu bagian dari aktivitas dan dinamika masyarakat di kawasan Pesarean tersebut. Untuk menuju ke pesarean Gunung Kawi bukanlah pekerjaan yang sulit. Secara administratif , Pesarean ini terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Daerah Tingkat II Malang, Jawa Timur. Sekitar 40 km sebelah barat Kota Malang. Jalan menuju desa tersebut sudah mulus beraspal. Alat transportasi tidak perlu dipersoalkan, karena banyaknya kendaraan yang menempuh route perjalanan kedesa tersebut.
Untuk menuju Desa Wonosari tersebut dapat ditempuh arah perjalanan dari jurusan : Malang – Kepanjen – Talang Agung. Dari sini berbelok kekanan melewati kota Kecamatan Ngajum menuju Desa Kebobang. Dari Desa Kebobang lalu membelok ke kiri melewati Dusun Bumirejo, terus ke utara sampailah ke Desa Wonosari. Kendaraan umum biasanya berhenti sampai diterminal Desa Wonosari. Tarif kendaraan umum untuk setiap orang ( sejak tahun 1987 ) sebesar Rp. 1.250,- ( Seribu Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah ). Jarak dari terminal Desa Wonosari sampai ke makam Mbh Djoego sekitar 750 meter, sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Sedangkan untuk kendaraan pribadi atau bukan kendaraan umum telah disediakan areal parkir yang luas didekat pintu gerbang Pesarean.

Ulasan tersebut di atas melatarbelakangi cerita yang sebenarnya terjadi serta letak Gunung Kawi dan pasareannya. Acara Tahlil Akbar atau yang disebut juga Penyekaran dan Kirab  Agung tersebut dihadiri oleh berbagai macam kalangan termasuk selebritis seperti Eko, Kadir, Doyok, Ribut, Memet, dan Pak Tarzan. Selain itu, juga hadir pejabat-pejabat tenar yang ada di Kabupaten Malang.  Perlu diketahui bahwa Penyekaran Agung ini merupakan acara puncak dari serangkaian acara yang diselenggarakan untuk memperingati 12 Muharram, 12 Suro 1432 H tersebut. Rangkaian acara tersebut dimulai dengan acara kirab dari penduduk sekitar yang mana untuk pemberangkatannya diresmikan oleh bapak dari Bakorwil. Keluarga dari juru kunci menunggu giliran untuk kirabnya di Hotel Roro milik Ibu Ririn (putrid dari juru kunci Gunung Kawi). Selanjutnya, kirab ini ditujukan untuk menjemput bapak Juru Kunci di dekat gerbang Pasarean Gunung Kawi untuk dilakukan prosesi pemberangkatan ke pesarean tersebut. Suasana mistis sangat terasa apalagi ketika sudah mulai memasuki pesarean yang dilengkapi dengan aroma bunga dan kemenyan di pesarean tersebut. Di sana, kami semua beserta masyarakat lainnya harus duduk selama lebih kurang 30 menit untuk membacakan doa-doa dan tahlil yang dipimpin oleh seorang ahli doa di sana. Terlihat antusiasme dan kekhusukan warga sekitar pada waktu berdoa di sana. Karena mereka memiliki keyakinan bahwa doa mereka akan membawa rezeki yang tak terduga dan tiada tara nantinya.(Roro Devi ‘10)

This slideshow requires JavaScript.

One response to “PENYEKARAN DAN KIRAB AGUNG 1432 H DI GUNUNG KAWI MALANG

  1. coba ditelaah lagi, makam Imam Sujono dan Mbah Jugo tidak dalam satu liang lahat, tetapi dalam liang yang berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s